Kain tenun dan
hasil tekstil lainnya adalah suatu warisan kekayaan peninggalan para leluhur
bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Hampir seluruh kelompok etnis di
wilayah Nusantara hingga saat ini masih melakukan pembuatan tenun, baik secara
turun temurun maupun dalam wilayah industri kecil dan menengah. Hasil-hasil
tenun dari Nusantara juga menjadi salah satu bentuk artefak budaya yang paling
menyebar dihampir seluruh museum dibelahan dunia. Kekaguman pada corak atau
motif dan pola-pola yang rumit namun indah serta halus dan mempunyai kandungan
makna budaya menjadikan para pencinta kain tenun dan peneliti diseluruh dunia
mengakui bahwa estetika kain tenun di Indonesia memang begitu beragam dan
bernilai budaya tinggi.
Maka selain
sebagai identitas budaya, hasil-hasil tenunan dan tekstil lainnya memainkan
peranan penting dalam kehidupan sosial - ekonomi masyarakatnya. Dibeberapa
daerah di tanah air, seperti kain batik telah menjadi industri yang bukan hanya
mendatangkan pendapatan bagi sekelompok orang, tetapi menjadi sumber pendapatan
daerah dan mungkin saja negara. Karena bagaimanapun kain tenun dan hasil
tekstil lainnya masih dipergunakan untuk upacara – upacara khusus adat – istiadat
dan ritual lainnya, bahkan penggunaannya masih berlangsung dalam keseharian
masyarakat. Dalam perkembangannya, secara inovasi, kain tenun telah mengalami
evolusi dalam teknik maupun coraknya. Namun dari bahan, motif serta pola
tersebut kita pun bisa menangkap pengaruh-pengaruh jamannya. Bahkan dalam
penerapannya kain-kain tenun bisa menjadi materi yang menarik dijadikan gubahan
yang dikreasikan pada pakaian oleh para disainer fesyen kontemporer maupun
untuk kain pelapis atau Upholstery. Ini juga menunjukan bahwa seni tradisi
tidaklah mandek, bahkan sebaliknya menunjukan kreativitasnya.
Pameran “Merajut Waktu Menjalin Makna” merupakan suatu tinjauan bagaimana hasil tenun Nusantara terus berkembang sesuai dengan perubahan-perubahan sosial, budaya dan ekonomi masyarakatnya. Oleh karenanya, mengamati pola-pola, motif dan warna serta penerapannya menjadi sangat penting. Karena sebagai praktik budaya, elemen-elemen didalam kain tenun mempunyai makna simbolik yang terkait dengan faktor eksternal seperti sosial,politik dan kebudayaan. Hal ini bisa dicermati dari tingkat kehalusan teknik tenun, materi atau bahan hingga penerapan motifnya.
Pameran “Merajut Waktu Menjalin Makna” merupakan suatu tinjauan bagaimana hasil tenun Nusantara terus berkembang sesuai dengan perubahan-perubahan sosial, budaya dan ekonomi masyarakatnya. Oleh karenanya, mengamati pola-pola, motif dan warna serta penerapannya menjadi sangat penting. Karena sebagai praktik budaya, elemen-elemen didalam kain tenun mempunyai makna simbolik yang terkait dengan faktor eksternal seperti sosial,politik dan kebudayaan. Hal ini bisa dicermati dari tingkat kehalusan teknik tenun, materi atau bahan hingga penerapan motifnya.
Pengaruh kontak
budaya melalui jalur – jalur perdagangan dari peradaban lampau, hingga kemudian
dengan rentang masa era kolonial, telah menghasilkan beragam olahan artistik
dalam kehidupan seni tradisi khususnya kain tenun. Pengaruh ini samasekali
tidak melemahkan keberadaan seni tenun sebagai sebuah bentuk seni tradisi dalam
konteks kehidupan sakral , tapi justru memperkaya nilai-nilai estetikanya.
Bahkan lebih jauh bila ditelusuri dan pencermatan melalui motif-motifnya,
niscaya kita bisa membaca tanda-tanda budaya atau narasi. Oleh karena itu seni
kriya , khususnya seni tenun mempunyai dimensi nilai simbolik. Seperti yang dikatakan
seorang pemerhati kain tenun songket Minang berkebangsaan Swiss, Bernhard Bart,
yang mengemukakan bahwa keunikan motif lama songket Minangkabau adalah setiap
motif mengandung makna filosofis. (Kompas, 17 February 2006)
Bersama-sama
Tria Basuki dan Yayasan Cita Tenun Indonesia (CTI), yang mengembangkan secara
khusus kain tenun nusantara, menyeleksi karya-karya tenun pengembangan tradisi
dengan keberagaman teknik dasar serta corak artistik. Puluhan ragam hasil tenun
dari berbagai wilayah ditampilkan di NAS, mulai dengan pola yang delicate ;
rumit serta halus dengan pola stilasi bentuk dan geomteris yang berlapis
seperti dari Aceh, Minangkabau dan Palembang, hingga yang tampak lebih bebas
dengan pola sederhana maupun figuratif, namun dinamis seperti dari Bali, Nusa
Tenggara atau warna cerah dari Makassar, serta Badui yang lebih minimalis serta
didominasi warna yang gelap. Sehingga keluasan wilayah ini memberikan kita
gambaran bagaimana praktik tenun merepresentasikan juga estetik sebuah
masyarakat yang majemuk. Adapula karya-karya perancang mode ternama maupun
benda-benda keseharian yang menggunakan tenun maupun dilapisi kain tenun
sebagai suatu alternatif yang secara kreatif bisa dikembangkan lebih lanjut.
Seni Tekstil Kontemporer
Seiring dengan
praktik tenun tradisi, praktik seni tekstil sebagai bagian dari praktik seni
rupa modern -selain seni lukis dan patung- juga berlangsung, terutama dilembaga
pendidikan seni rupa modern. Walaupun keberadaannya dibawah jurusan desain (di
FSRD ITB) dan Kriya (di ISI-Jogja), yang lebih mengarah pada seni terapan,
tetapi saat ini beberapa alumninya mengembangkan bentuk ungkapan artistik yang
individual seperti juga bentuk karya seni murni. Tetapi kemunculannya dalam
dunia pendidikan seni modern begitu sangat terlambat. Seperti halnya yang
pernah diutarakan oleh kritikus Sanento Yuliman (alm.) , dalam sebuah artikel
pameran tahun 1986 menyebutkan bahwa: Gerakan seni rupa modern kita – yang kota dan kelas menengah
itu – tidak cepat tanggap akan kenyataan seni tenun dan tekstil lainnya dalam
budaya masyarakat kita, beliau mengemukakan kritiknya :
Modernisme,
khususnya pada tahap awal dan pada kebanyakan perupa, telah menjangkitkan rabun
dekat : melihat tradisi bangsa sendiri secara samar-samar. Lahir dari kandungan
penjajahan dan kontak kebudayaan, gerakan seni modern di tanah air kita dengan
bersemangat merengkuh gagasan-gagasan Barat dan sejarah seni Eropa. Gagasan
tentang keutamaan seni lukis (dipandang sebagai induk seluruh seni rupa),
gagasan rendahnya kriya (craft), tentang asas individualisme dalam seni,
dianggap sahih secara universal. Dalam pada itu, lambannya komunikasi
menyebabkan perubahan dalam seni dan estetika Barat, terutama yang mutakhir,
tertangkap hanya sayup – sayup dan ditanggapi dengan keraguan. (Sanento, 2001:
186) 1.
Dalam wacana
modernisme barat yang dikotomis, praktik kriya bahkan dihubungan dengan lawan
dari seni murni (lukis-patung) yang superior, jenius, maskulin. Praktik kriya
(keramik, tekstil, kayu, dan lainnya) dianggap lebih cenderung inferior,
terlalu kolektif agraris, feminin. Walaupun saat ini dikotomi itu memudar tapi
dalam keseharian, dominasi seni lukis masih terasa. Maka baru sekitar tahun
1972 studio tekstil dibuka di FSRD – ITB, yang menunjukan bahwa adanya
keterlambatan dalam menanggapi pemikiran-pemikiran terhadap seni modern dan
bahkan dalam mempertimbangkan kekayaan praktik budaya nusantara. Bahkan
sebenarnya studio tekstil disana lebih mengarah pada pemenuhan dunia industri
tekstilnya. Perkembangan kemudian, praktik seni berbasis tekstil dan serat
dalam lingkungan akademisi menghasilkan perupa-perupa tekstil yang
mengembangkan bentuk karya individual seperti tapestri , batik, hingga
instalasi. Biranul Anas, Ratna Panggabean, Hasanudin, Yusuf Efendy, Lengganu,
Sunaryo, Zaini Rais mungkin beberapa nama yang muncul dengan karya-karya seni
tekstil dan serat sejak dekade 1980-an.
Karya-karya
serat yang tampil dalam pameran kali ini, seperti Biranul Anas dan John Martono
misalnya tetap menjelajahi berbagai teknik dan artistik seperti menjalin
benang, memilin, mencelup, mengikat, menenun dan membatik hingga bordir yang
cenderung industrial, di dalam suatu bentuk karya tapestri serta bentuk
trimatra. Biranul sering menjelajahi materi-materi dasar serat dengan
menggabungannya beberapa material dan bereksperimen dengan bentuk-bentuk
trimatra, dengan pola-pola yang melintas batas formalisme tradisional.
Ungkapan-ungkapan individu secara langsung diartikulasikan lewat gubahan warna,
tekstur dan pola yang lebih bebas dari pakem –pakem maupun pola tertentu
seperti pada karya-karya John Martono. Begitupun dengan karya-karya Caroline
Rika, Abdul Sukur dan Rifqi Sukma yang eksploratif terhadap kemungkinan
material yang dipermainkan dalam wujud karya yang cenderung mementingkan
interaksi imajinatif.
Seperti yang
diutarakan Sujud Dartanto, kurator dalam pameran “textstyleproject” di
Bentara Budaya Jogjakarta,
bahwa: “ Bentuk visual karya mereka berbeda dengan lazimnya seni serat yang
orang lihat pada seni batik dan tapestri misalnya. Dalam terma masa kini,
karya-karya mereka memperlihatkan bentuk kontemporer. Artinya, cara mereka
membentuk tidak ingin terikat pada pakem gaya
tradisional. Penjelahan bentuk ini membuka bentuk pengucapan personal.
Membentuk stilisasi dan gaya tersendiri. Di sini kita bisa mengapresiasi bahwa
karya-karya mereka ini membuka peluang untuk melakukan berbagai penjelahan
bentuk baru. Benang dalam hal ini menjadi karya objek yang tersusun dari
berbagai macam unsur material. Bidang seni serat ini jelas tidak meninggalkan
aspek craftsmanship, ketelitian dalam menentukan dan memilih bahan. Ketiganya
berkutat pada bagaimana unsur benang bisa sedapat mungkin melahirkan bahasa
artistik. Juga nampak bahwa unsur benang mereka artikan pula sebagai sebuah
teks yang tengah menenun dan membentuk dirinya menjadi sebuah style.”
Selain bertiga
diatas, jelajah bentuk trimatra yang meruang juga dilakukan oleh Nuri Fatima
yang menggunakan banyak teknik menata kain perca atau patchwork. Karyanya
berupa himpunan bentuk-bentuk seperti gunung atau bantal kerucut menjadi simbol
personal dari suatu kenangan pribadinya dan kemudian mengajak pengamat untuk
lebih aktif masuk pada dunianya. Sedangkan sekumpulan perupa muda , Kelompok
Simponi (Sindikat Monster Poni) dari Jogjakarta yang terdiri dari Dian Ariyani,
Elia Nurvista, dan Gintani Nur Apresia Swastika, menghadirkan gubahan karya
membentuk teks “ MADE IN CHINA” yang terdiri dari susunan huruf-huruf dengan
dibungkus kain batik sehingga memberikan makna yang ambigu bahkan ironis. Motif
dan kain batik menjadi sebuah identitas budaya bangsa dan karya ini seolah
menyindir dan memaksa kita untuk mempertimbangkan terus keberadaannya dalam
kehidupan yang global ini.
Dalam praktik
seni rupa kontemporer, persoalan medium ungkap tak lagi dilihat secara
ideologis atau tersekat-sekat. Dunia gagasan seolah menjadi keutamaan dan fisik
karya merupakan kendaraan untuk strategi perupa menciptakan ruang-ruang
pemaknaan. Penggunaan teknik bordir misalnya, yang lebih cenderung industrial,
bisa dimanfaatkan sebagai alat dalam menghasilkan garapan artistik yang sesuai
dengan ungkapan yang diinginkan maupun pemanfaatan dalam mencari watak atau
karakter yang khas.
Dalam pameran
ini para perupa lebih mengutamakan watak khas serat benang untuk mengonstruksi
imaji. Erik Pauhrizi menghadirkan potret – potret wajah pesohor sinema masa
lalu, dengan bordiran hitam-putih seperti juga ada kesamaan watak drawing
dengan garis maupun print, atau cetak mutakhir yang terdiri dari matrik dot
maupun piksel. Sedangkan Eko Nugroho menggunakan watak bordir karena dalam
keseharian masyarakat kontemporer, sering digunakan sebagai lencana (badge),
mulai untuk seragam sekolah, pangkat kemiliteran, tanda lembaga pemerintah,
hingga gang anak muda. Oleh karena itu bordir punya kaitan dengan identitas
sosial. Sehingga dengan demikian gambar-gambar Eko yang bernuansa kritis namun
jenaka mempunyai tempatnya yang pas.
Bagi perupa
lainnya , medium dan teknik industri tekstil menjadi supplemen, seperti karya
karpet Radi Arwinda dengan ikon Apetnya. Ia banyak terobsesi dan terpengaruh
seni kartun Jepang atau Manga yang kemudian dipadukan dengan corak – corak dari
seni tradisi. Pencarian jatidiri Radi dalam menciptakan karakter kartun dengan
potret dirinya membentuk identitas karya-karyanya, dengan meleburkan karakter awan
“megamendung” yang diambil dari corak batik maupun ukiran Cirebon kedalam ranah
artistik manga. Karya Car-Pet dan Sof-Pet disini menggunakan idiom benda-benda
keseharian ; karpet yang dibuat secara khusus yang menampilkan karakter Apet
dan juga pasangannya, berupa sebuah sofa dengan bentuk dasar dari gubahan
megamendungnya. Corak – corak dalam karya Radi menyadarkan kita bahwa kekayaan
tradisi menjadi mungkin untuk dikaji dan dijelajahi menjadi sesuatu ikon yang
lebih bergaya global.
Tenun dan Tekstil Dalam Kehidupan Saat Ini
Akhir kata,
bahwa potensi seni tekstil di Indonesia merupakan suatu ladang gagasan yang
mahaluas untuk dijelajahi serta dijadikan beragam bentuk artistik. Hasil –
hasil tekstil, baik yang tradisionil maupun yang modern, yang manual maupun
masinal mempunyai posisi penting dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.
Sebagai sebuah praktik budaya seperti hasil seni, tenun dan tekstil mempunyai
fungsi simbolik. Oleh karena itu kajian – kajian terhadap perkembangan seni
tenun tradisi dan sebagai medium ungkap seni kontemporer menjadi suatu
kepentingan yang bakal mampu memberikan makna dalam formasi global saat ini.
Bahkan pada saat ini kajian budaya mutakhir menjadikan seni tenun dan tekstil
sebagai salah satu wahana dalam memahami suatu konteks budaya. Seorang
akademisi Australia, Sue Rowly (1999: 7) mengatakan bahwa pada dasarnya hasil
kriya seringkali digunakan sebagai bahan kajian ilmu pasca-kolonial. Alih-alih,
kriya bisa digunakan untuk memaknai nilai diluar sejarah barat dan suatu model
pertahanan yang kreatif tanpa harus disejajarkan dengan seni kontemporer barat
yang mengarah pada praktik kritik, sebagai suatu keberbedaan (difference).
Sebagai suatu wilayah alternatif penelusuran (trajectory) sejarah lokal yang
khas.
Oleh karena itu,
pameran ini diharapkan memberikan suatu alternatif pengamatan terhadap
pemaknaan seni tenun warisan leluhur dan sekaligus budaya kontemporer Indonesia
saat ini.
Kesimpulan
Seni di
masyarakat berfungsi sebagai pelengkap hidup, wadah untuk mengekspresikan inspirasi
dan sebagai sumber penghasilan guna menghidupi keluarga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar